Projo Ganti Logo dan Dukung Prabowo dan Gerindra
Liputankilat.com — Gerakan relawan pendukung Presiden Joko Widodo, Projo, kini resmi mengambil langkah besar dalam arah politiknya. Melalui Kongres Nasional III yang digelar di Jakarta akhir pekan lalu, organisasi ini mengumumkan pergantian logo, menegaskan makna asli “Projo” yang bukan “Pro Jokowi”, sekaligus menyatakan dukungan penuh kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Langkah ini juga dibarengi dengan pernyataan terbuka Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang mengisyaratkan dirinya akan segera bergabung ke Partai Gerindra.
Transformasi Identitas: Projo Bukan Lagi “Pro Jokowi”
Dalam pidatonya di hadapan ribuan relawan, Budi Arie menjelaskan bahwa Projo selama ini sering disalahartikan sebagai singkatan dari “Pro Jokowi”, padahal maknanya jauh lebih luas.
“Selama ini publik mengira Projo itu singkatan dari Pro Jokowi. Padahal tidak. Dalam bahasa Jawa Kawi dan Sanskerta, projo berarti rakyat, negeri, atau bangsa,” ujar Budi Arie di sela kongres, Sabtu (2/11/2025).
Ia menegaskan, filosofi baru ini mencerminkan arah politik Projo ke depan yang pro terhadap rakyat Indonesia, bukan sekadar tokoh atau figur politik tertentu.
“Projo artinya rakyat. Kami bukan lagi sekadar relawan seseorang, tapi gerakan rakyat untuk bangsa dan negara,” tambahnya.
Dengan semangat itu, Projo bertransformasi dari organisasi relawan menjadi gerakan sosial-politik nasional yang siap mendukung program pembangunan pemerintah baru.
Ganti Logo: Dari Wajah Jokowi ke Simbol Semut Hitam
Pergantian logo menjadi simbol konkret dari arah baru Projo. Logo lama yang menampilkan wajah Presiden Jokowi kini digantikan oleh gambar semut hitam bersayap putih di atas latar merah-putih.
Desain baru tersebut, kata Budi Arie, melambangkan kerja keras, kesetiaan, dan gotong royong, nilai-nilai yang dianggap sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Semut itu kecil tapi kuat. Mereka bekerja bersama, tanpa pamrih, dan tidak pernah berhenti. Itulah karakter bangsa yang kita perjuangkan,” ujarnya.
Dukungan Resmi Projo untuk Prabowo-Gibran
Dalam kongres yang sama, Budi Arie menyampaikan keputusan organisasi untuk mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara penuh.
“Kami tegak lurus mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran. Ini bukan soal meninggalkan siapa pun, tapi tentang melanjutkan perjuangan rakyat Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, arah baru Projo tetap selaras dengan visi pembangunan Presiden Jokowi, namun kini difokuskan pada kelanjutan dan penguatan program rakyat di bawah kepemimpinan Prabowo.
“Kita tetap menghormati Pak Jokowi, beliau inspirasi kita. Tapi perjuangan rakyat harus terus berjalan bersama pemimpin baru,” kata Budi Arie.
Isyarat Budi Arie Gabung ke Gerindra
Dalam sesi wawancara setelah kongres, Budi Arie menyiratkan bahwa dirinya akan segera masuk ke Partai Gerindra.
Hal ini diperkuat dengan kedekatan politiknya bersama jajaran elite Gerindra dalam beberapa agenda pemerintahan dan kegiatan publik belakangan ini.
“Kalau partai, ya pasti Gerindra. Karena sekarang kita satu garis perjuangan dengan Presiden Prabowo,” ujarnya singkat sambil tersenyum.
Menanggapi hal ini, Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan bahwa partainya menyambut positif jika Budi Arie dan relawan Projo ingin bergabung.
“Kami selalu membuka pintu untuk siapa pun yang ingin berjuang bersama Prabowo. Kalau Projo bergabung, itu akan jadi kekuatan besar,” kata Dasco.
Reaksi Publik dan Makna Politiknya
Langkah berani Projo untuk mengganti logo dan menegaskan arti nama organisasi menuai beragam tanggapan publik.
Sebagian pengamat menilai langkah ini sebagai bentuk adaptasi politik yang cerdas pasca berakhirnya masa kepemimpinan Jokowi.
Direktur Lembaga Kajian Politik Nusantara, Rizal Fadillah, mengatakan bahwa redefinisi “Projo” sebagai “rakyat” memberi organisasi ini legitimasi moral untuk tetap eksis dalam lanskap politik baru.
“Dengan memaknai Projo sebagai gerakan rakyat, bukan relawan personal, mereka bisa tetap relevan dan punya ruang di pemerintahan berikutnya,” ujarnya.
Namun, Rizal juga mengingatkan bahwa perubahan ini dapat menimbulkan resistensi di kalangan anggota lama yang masih loyal terhadap Jokowi.
“Basis lama Projo harus diyakinkan bahwa ini bukan pengkhianatan, melainkan kelanjutan perjuangan dalam bentuk baru,” tambahnya.
Sikap dari Lingkaran Jokowi
Dari pihak lingkaran Jokowi, beberapa mantan relawan senior menegaskan bahwa Presiden Jokowi tidak mempermasalahkan perubahan arah politik Projo.
Menurut mereka, Jokowi memahami bahwa dinamika politik pasca masa jabatan presiden memang menuntut adaptasi dan kemandirian.
“Pak Jokowi tidak akan marah. Beliau tahu politik itu dinamis. Yang penting, perjuangan tetap untuk rakyat,” ujar salah satu tokoh relawan senior.
Langkah Lanjutan Projo
Setelah resmi mengubah logo dan arah politik, Projo berencana meluncurkan manifesto baru dalam acara deklarasi nasional di Jakarta akhir bulan ini.
Organisasi juga tengah menyiapkan reorganisasi struktur relawan di tingkat daerah agar dapat bersinergi dengan pemerintahan baru dan program sosial kerakyatan.
Sumber internal menyebutkan bahwa Budi Arie akan segera bertemu dengan Presiden Prabowo untuk membahas kontribusi relawan Projo dalam bidang ekonomi kerakyatan, digitalisasi UMKM, dan penguatan desa.
Transformasi Projo menandai babak baru dalam sejarah gerakan relawan nasional.
Dengan mengganti logo, mengubah arah politik, dan menegaskan bahwa “Projo” berarti rakyat dan negara, bukan “Pro Jokowi”, organisasi ini menunjukkan kematangan politik yang lebih luas.
Langkah Budi Arie yang berpotensi bergabung ke Gerindra memperkuat sinyal bahwa Projo kini siap berada di garda depan pemerintahan Prabowo-Gibran, membawa semangat kerja keras, gotong royong, dan keberpihakan kepada rakyat.

